Destilasi Bertingkat

Untuk memisahkan dua jenis cairan yang sama-sama mudah menguap dapat dilakukan dengan destilasi bertingkat.Destilasi bertingkat sebenarnya adalah suatu proses destilasi berulang.Proses berulang ini terjadi pada kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa plat dimana pada setiap plat terjadi pengembunan.Uap yang naik plat yang lebih tinggi lebih banyak mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah menguap) sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih banyak dalam kondensat. Contoh destilasi bertingkat adalah pemisahan campuran alkohol-air (lihat gambar di bawah),titik didih alkohol adalah 78*C dan titik didih air adalah 100*C.Campuran tersebut dicampurkan dalam labu didih.Pada suhu sekitar 78*C alkohol mulai mendidih tetapi sebagian air juga ikut menguap.Oleh karena alkohol lebih mudah menguap,kadar alkohol dalam uap lebih tinggi daripada kadar alkohol dalam campuran semula.Ketika mencapai kolom fraksionasi,uap mengembun dan memanaskan kolom tersebut.Setelah suhu kolom mencapai 78*C,alkohol tak lagi mengembun sehingga uap yang mengandung lebih banyak alkohol naik ke kolom di atasnya,sedangkan sebagian air turun ke dalam labu didih.Proses seperti itu berulang beberapa kali (bergantung pada banyaknya plat dalam kolom),sehingga akhirnya diperoleh alkohol yang lebih murni.Contoh lain dari Destilasi bertingkat adalah pemurnian minyak bumi,yaitu memisahkan gas,bensin,minyak tanah, dan sebagainya dari minyak mentah.

Kalibrasi pH meter

  1. Rendam sebentar elektroda dalam akuades, bilas  berkali-kali dengan menggunakan botol semprot (gunakan gelas kimia 250 mL untuk menampung air sisa semprotan.
  2. Keringkan dengan menggunakan kertas tissue (pastikan elektroda kering).
  3. Rendam dalam larutan bufer pH 7 (dalam gelas kimia 100 mL atau langsung dalam botol kecil) beberapa saat (untuk mencapai kesetimbangan). “On” kan pHmeter.
  4. Tunggu beberapa saat. Bacalah skala pH. Bila pH terbaca tidak sama dengan 7 putarlah tombol penyesuai pH, agar pH menjadi terbaca 7.
  5. Cuci elektroda dengan akudes berulang-ulang. Keringkan
  6. Celupkan elektroda ke dalam  larutan bufer pH 4, biarkan beberapa saat. Bacalah pH pada skala pH alat. pembacaan harus menunjukkan pH 4 ± 0,02.
  7. Lakukan pekerjaan yang sama seperti di atas, tetapi menggunakan larutan bufer pH 7, pembacaan harus menunjukkan pH 7 ± 0,02.
  8. Apabila hasil pembacaan di luar range yang telah ditetapkan artinya pHmeter tidak terkalibrasi.

Kalibrasi Alat Gelas Kimia

Kalibrasi Buret

  1. Membersihkan buret yang akan dikalibrasi, mengeringkan buret dengan baik, memberi pelumas pada kran penutup dengan baik
  2. Menimbang gelas kimia sebagai alas timbang dengan menggunakan neraca analitis dan mencatat hasil penimbangan tersebut
  3. Mengisi buret dengan aquades
  4. Mengeringkan bagian atas buret dengan kertas saring
  5. Mengeluarkan aquades dari buret sebanyak per 5 ml (untuk buret mikro, maka penurunannya per milimeternya dikecilkan) dan mengisikannya ke dalam gelas kimia yang telah ditimbang tadi
  6. Menimbang kembali botol timbang yang telah berisi aquadest dengan menggunakan neraca analitis (menjepit botol timbang dengan pinset)
  7. Mencatat hasil penimbangan tersebut
  8. Membawa kembali ke meja kerja
  9. Mengukur suhu dengan menggunakan thermometer
  10. Mencatat suhu yang didapat
  11. Melakukan kegiatan di atas untuk buret dengan volume 10, 15, 20, 25, 30, 35, dan 40 ml
  12. Untuk volume 20 ml sampai 40 ml dengan menggunakan gelas kimia 50 ml

Kalibrasi Labu ukur 50 ml

  1. Menimbang labu ukur kosong dengan neraca analitik
  2. Mengambil aquadest dan memasukkannya kedalam labu ukur 50 ml tersebut (sampai kira-kira 1 cm dibawah tanda tera)
  3. Membersihkan labu ukur bagian atas dengan garis tera dengan menggunakan kertas saring.
  4. Menghimpitkan miniskus bawah dengan garis tera labu

Kalibrasi Pipet Volumetri

Pipet volumetri merupakan alat untuk mengukur volume cairan dalam skala yang kecil. Pipet harus ditera dulu sebelum digunakan agar cairan yang dikeluarkan dari pipet tersebut keluar tepat secara kuantitatif. Namun walaupun demikian, hasil dari pemipetan tersebut tidaklah tepat 100%, pasti terdapat kesalahan yang namanya galat.

Ada dua kelompok kesalahan dapat mempengaruhi akurasi atau presisi dari nilai terukur. Kesalahan pasti adalah suatu kesalahan yang dapat ditentukan dan dapat dihindari atau dikoreksi. Kesalahan ini biasanya konstan, misalnya pada kasus timbangan yang tak terkalibrasi yang biasanya digunakan untuk penimbangan, kesalahan ini kadang-kadang bervariasi, tetapi dapat dihitung dan dikoreksi, seperti suatu buret yang mempunyai kesalahan pada pembacaan volumenya. Kesalahan tak pasti atau kesalahan acak yaitu suatu kesalahan pengukuran yang terjadi secara tak tentu. Kesalahan ini tidak dapat diramalkan atau diduga. Kesalahan ini mengikuti pola distribusi acak. Jadi persamaan matematika mengenai probabilitas dapat diterapkan pada beberapa kesimpulan dari hasil pengukuran yang mungkin pada sederatan pengukuran. Kesalahan tidak pasti sesungguhnya dikarenakan kemampuan yang terbatas dari analisis.

Kalibrasi Pipet Volume

  1. Menimbang botol timbang tanpa penutup sebagai alat timbang dengan neraca analitis, catat hasil menimbang (menjepit botol timbang dengan pinset)
  2. Mengambil aquades dengan menggunakan pipet volume
  3. Mengisikan aquades dari pipet volume ke dalam botol timbang
  4. Jika pipet yang dikalibrasi adalah pipet ukur berskala, maka pembacaan hasil penimbangan dilakukan setiap ml-nya
  5. Mencatat hasil penimbangan tersebut
  6. Membawa botol timbang tersebut ke meja kerja
  7. Mengukur suhu dengan menggunakan thermometer
  8. Melakukan kegiatan 1 sampai 7 untuk pipet volume 5 ml dan 10 ml
  9. Untuk pipet volume 25 ml, botol timbang diganti dengan gelas kimia 80 ml dan melakukan kegiatan 1 – 7

Contoh Perhitungan :

Pipet Volume 5 ml

Berat Alas + aquades          = 18,1291 gram

Berat Alas                                = 13,1111 gram

Berat air yang ditimbang    =   5,0180 gram

Massa jenis air pada suhu = 280C adalah 1,0048

Volume sesungguhnya = berat air yang ditimbang x massa jenis air (tabel)

= 5,0180 x 1,0048

= 5,0420 ml à selisih = 5,0420 – 5,0180 = 0,024

Maka, nilai toleransi pada pipet volume 5 ml tersebut adalah 0,024

Tabel toleransi untuk Alat Kaca Volumetri

Kapasitas sama atau kurang dari

Pipet Transfer

Buret

Labu Ukur

2

0,006

5

0,01

0,01

10

0,02

0,02

25

0,03

0,03

0,03

50

0,05

0,05

0,05

100

0,08

0,10

0,08

200

0,10

0,10

500

0,15

1000

0,30

Sumber : Underwood, Edisi 6

Tabel Volume 1 gram air ditimbang dalam udara dengan batu timbangan baja pada berbagai temperatur.

0C

ml

0C

ml

10

1,0013

21

1,0030

11

1,0014

22

1,0033

12

1,0015

23

1,0035

13

1,0016

24

1,0037

14

1,0018

25

1,0040

15

1,0019

26

1,0043

16

1,0021

27

1,0045

17

1,0022

28

1,0048

18

1,0024

29

1,0051

19

1,0026

30

1,0054

20

1,0028

31

1,0056

Sumber : Underwood, edisi 6

 

Kimia Organik vs Kimia Anorganik

A. SEJARAH SINGKAT

Pada awal perkembangan ilmu kimia sebagai suatu ilmu pengetahuan, berlaku klasifikasi senyawa kedalam senyawa organik dan senyawa anorganik berdasarkan asal usul senyawa. Semua senyawa yang berasal dari makhluk hidup digolongkan dalam senyawa organik, sedangkan yang berasal dari mineral digolongkan dalam senyawa anorganik. Pada waktu itu diyakini bahwa senyawa organik hanya dapat tejadi oleh adanya pengaruh dari daya yang dimiliki makhluk hidup ( vital force atau vis vitalis ).

Dengan keberhasilan Friederich Wohler dalam membuat urea (senyawa organik) dari ammonium sianat ( senyawa anorganik ) pada tahun 1828, maka keyakinan adanya pengaruh ‘vital force’ dalam pembentukan senyawa organik semakin goyah. Dalam perkembangan selanjutnya diperoleh suatu kesimpulan bahwa diantara senyawa organik dan anorganik tidak ada perbedaan mengenai hukum- hukum kimia yang berlaku.

Meskipun diantara senyawa organik dan senyawa anorganik tidak ada perbedaan yang hakiki sebagai senyawa kimia, namun pengkajiannya tetap dipandang perlu dipisahkan dalam cabang kimia yang spesifik.

Secara garis besar alasan yang melandasi pemisahan bidang kajian kimia organik dan kimia anorganik adalah :

  1. jumlah senyawa organik jauh lebih banyak daripada senyawa anorganik.
  2. semua senyawa organik mengandung atom karbon, yang mempunyai keunikan dalam hal kemampuannya membentuk rantai dengan sesama atom karbon, dan mempunyai sifat-sifat khas.

B. PERBEDAAN KIMIA ORGANIK DAN ANORGANIK

No Senyawa organik Senyawa Anorganik
1 Kebanyakan berasal dari makhluk hidup dan beberapa dari hasil sintesis Berasal dari sumber daya alam mineral ( bukan makhluk hidup)
2 Senyawa organik lebih mudah terbakar Tidak mudah terbakar
3 Strukturnya lebih rumit Struktur sederhana
4 Semua senyawa organik mengandung unsur karbon Tidak semua senyawa anorganik yang memiliki unsur karbon
5 Hanya dapat larut dalam pelarut organik Dapat larut dalam pelarut air atau organik
6 CH4, C2H5OH, C2H6 dsb. NaF, NaCl, NaBr, NaI dsb.

Badai Matahari

Lagi

Selamat Datang

Selamat datang di blog pribadi saya.

Ini hanya berupa tulisan-tulisan saya yang sifatnya bebas tanpa ikatan, apapun akan dibahas dalam blog ini. Welcome to my world, baby